Keistimewaan Yogyakarta Dipertanyakan?

12 Jan

Polemik mengenai keistimewaan Yogyakarta sampai sekarang masih menjadi Pro dan kontra di masyarakat. Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) Yogyakarta mengerucut pada satu tema, gubernur dipilih langsung oleh rakyat atau ditetapkan. Perbedaan pendapat antara Istana dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X semakin kentara saat wacana referendum mengemuka. Sultan meminta keputusan penentuan gubernur dan wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dipilih secara langsung harus disepakati melalui referendum.

Pada tanggal 26 November 2010 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka rapat kabinet terbatas di kantornya mengatakan tidak pernah melupakan sejarah dan keistimewaan DIY. Keistimewaan DIY itu sendiri berkaitan dengan sejarah dari aspek-aspek lain yang harus diperlakukan secara khusus sebagaimana pula yang diatur dalam Undang-undang Dasar. Maka itu harus diperhatikan aspek Indonesia adalah negara hukum dan negara demokrasi. Pernyataan inilah yang mungkin menuai kontroversi. “Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi maupun nilai-nilai demokrasi”.

Mari kita menengok kembali sejarah mengenai keistimewaan Yogyakarta. Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta sudah mempunyai tradisi pemerintahan karena Yogyakarta adalah Kasultanan, termasuk di dalamnya terdapat juga Kadipaten Pakualaman. Daerah yang mempunyai asal-usul dengan pemerintahannya sendiri, di zaman penjajahan Hindia Belanda disebut Zelfbesturende Landschappen. Di zaman kemerdekaan disebut dengan nama Daerah Swapraja. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II ) kemudian bergelar Adipati Paku Alam I. Pemerintah Hindia Belanda saat itu mengakui Kasultanan maupun Pakualaman, sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan dalam kontrak politik. Terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941 No 47 dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577.

Pada saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengetok kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Pegangan hukumnya adalah:
1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI
2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Amanat Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 (yang dibuat sendiri-sendiri secara terpisah)
3. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober 1945 (yang dibuat bersama dalam satu naskah).
Dengan dasar pasal 18 Undang-undang 1945, DPRD DIY menghendaki agar kedudukan sebagai Daerah Istimewa untuk Daerah Tingkat I, tetap lestari dengan mengingat sejarah pembentukan dan perkembangan Pemerintahan Daerahnya yang sepatutnya dihormati. Pasal 18 undang-undang dasar 1945 itu menyatakan bahwa “pembagian Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam Daerah-daerah yang bersifat Istimewa. Sebagai Daerah Otonom setingkat Propinsi, DIY dibentuk dengan Undang-undang No.3 tahun 1950, sesuai dengan maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut. Disebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah meliputi bekas Daerah/Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman.

http://handokotantra.net/asal-mula-keistimewaan-yogyakarta.html

6 Responses to “Keistimewaan Yogyakarta Dipertanyakan?”

  1. melanieckapoetri January 21, 2011 at 2:02 pm #

    lagi-lagi pemerintah membuat ulah…..
    pdhl masih banyak kasus di negri ini yang belum terselesaikan….
    dari pda pemerintah mbuat ulah terkait dg DIY yg sudah aman-aman saja mendingan ngurus kasus lain, seperti kasus korupsi biar gagh smakin merajalela……
    awwas ntar mrapii ngamuk lgii…..
    hehehee
    DC😀

  2. rohatieazra January 25, 2011 at 1:08 am #

    jangan dipertanyakan kwand cz jogja…jogja tetap istimewa yua g’?Qt dkug Jogja,,,hehe

  3. ayyukkusuma January 25, 2011 at 1:55 pm #

    Jogja tetap Jogja kawann,,,mau diganggu tetep aja g bisa,,jogja tetap istimewa,,dengan banyak unsur budaya dan kenyamanan kota Jogja yang ampe sekarang terjaga

  4. ninda January 26, 2011 at 8:25 am #

    jogja tetaplah istimewa dengan kebudayaan serta nilai-nilai sejarahnya .

  5. ruliikaruniaardhianta January 26, 2011 at 9:42 am #

    pemerintah lebih baik sibuk ngurus gayus dkk aja deh….
    yogja jangan diusik usik…
    selama ini aja masyarakat jogja oke oke aja dengan status jogja ini. kita malah bangga kok….
    apa pemerintah itu kurang kerjaan atau nyari perhatian ceeee

  6. yunisaputro January 26, 2011 at 2:54 pm #

    Yogyakarta berhati nyaman….
    pemerintah harus kembali menengok sejarah sebelum menggugat kedamaian istimewanya Jogja. jangan menjadi kacang yang lupa kulit.
    dulu, bukankah Jogjakarta merupakan negara yang tidak terjajah oleh Belanda. namun karena merasa sehati dengan Indonesia, negara Jogja menyatakan diri berkabung, dengan mengajukan peringkat keistimewaan daerah.
    sekuat apapun tenaga pemerintah tidak akan pernah mammu merubah alur sejarah.
    ingat multikulturalisme bangsa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: